jejalan yuk

IMG_7409


Leave a comment

Kapan Berlayar (lagi)

IMG_7409
Entah kenapa setelah melihat lihat kumpulan foto berlayar kemarin, saya jadi pingin mencoba melakukan perjalan laut yang panjang. Entah ke Indonesia Timur atau Indonesia Barat… dua duanya memiliki daya magis sendiri untuk menarik keinginan bertualang. Belitong, Kepulauan Riau, Natuna atau Banda Neira, Halmahera… ahh dan masih banyak yang lainnya.

Untuk rasanya sementara saya masih menunggu cuaca di Indonesia sedikit membaik dan bersahabat dulu, baru setelah itu bisa merealisasikan keinginan tersebut. Kebetulan saja beban kerja saya sudah berkurang banyak, setelah hingga awal tahun kemarin, saya dihajar bertubi-tubi oleh project dari sebuah BUMN. Alhamdulillah memang, tetapi cukup merepotkan hehe.

Ah semoga segera terlaksana harapan saya, sebelum pekerjaan baru masuk dan mengganggu keinginan bertualang saya :D.

Aceh Yang Menggoda

3 Comments

Ketika pesawat saya mendarat waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Yap siang itu adalah pertama  kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Serambi mekah. Cuaca cukup cerah, walau dikejauhan terlihat awan abu-abu bergerak lambat, entah kearah mana. Hehe saya masih disorient arah ketika pertama kali sampai. Ketika sampainya di gedung utama bandara Sultan iskandar muda, handphone saya nyalakan. Beberapa pesan masuk kedalam Inbox. Salah satunya terdapat pesan dari seorang sahabat, isinya untuk menghubunginya ketika saya sudah mendarat. Sayapun segera menghubungi Ferzya, sahabat saya yang tinggal di Banda Aceh.

Namun saya lupa kalau walaupun berdarah Aceh tetapi Ferzya besar di Jawa, jadi belum terlalu tahu banyak juga soal Aceh. Akhirnya setelah saya hubungi, dia ngasih kontak temannya, dikenalkanlah saya dengan Adun. Bersama pemuda asal Lampuuk inilah saya akan mencoba mengeksplorasi Aceh.  Belakangan saya baru tahu ternyata Adun itu dalam bahasa Aceh sama saja dengan Kakak atau Abang :D.

masjid baiturrahman

masjid baiturrahman

Dalam kunjungan yang hanya beberapa hari tersebut, saya ditemani Adun berkeliling ke tempat-tempat yang menarik dengan motornya. Agak disayangkan kunjungan saya kesana memang ketika masih dipertengahan musim hujan. Sehingga beberapa kali kami sering dipaksa berteduh, karena tiba-tiba hujan lebat datang menghampiri. Tetapi asyiknya selalu ada kopi panas yang tersaji disetiap lokasi kami berteduh. Ya seolah warung kopi tersebar merata keseluruh pelosok Aceh. Hehe, mungkin saya terlalu berlebihan, karena yang saya kunjungi hanya sekitaran Banda Aceh dan sebagian Aceh Besar, ya adalah juga waktu sehari saya sempet mengunjungi Iboih di Sabang. Tetapi mungkin itu benar saja. Aceh adalah ibu kotanya Kopi Indonesia, bahkan mungkin dunia. Starbuks, gerai kopi yang terkenal itu saja membeli bahan baku hingga puluhan ribu ton kopi Sumatra (Gayo) tiap tahunnya. Wajar saya ada teori dikalangan peneliti kopi, semakin tinggi lokasi kopi tumbuh, maka semakin harum/bagus kualitasnya. Takengon  (gayo) adalah dataran tinggi di Aceh yang sejak dulu kala terkenal sebagai penghasil kopi kualitas utama.

Perbukitan Yang Cantik

Perbukitan Yang Cantik  di Aceh Besar

Dikunjungan tersebut saya mencoba memaksimalkan waktu yang terbatas tersebut untuk mengenali potensi wilayah di Aceh, dan  mengabadikannya melalui foto dan beberapa footages video (silahkan melihat gallery). Namun akhirnya saya hanya mampu merekam keindahan alamnya saja, beberapa festival budaya juga sudah lewat masanya, sehingga tidak ada satupun yang dapat saya abadikan.

Sekembalinya dari sana ada satu hal yang sedikit mengganjal, setidaknya minimal saya ingin tahu lebih dalam tentang dibalik budaya minum kopi  orang Aceh. Mengingat begitu banyaknya warung kopi disana, tentu banyak cerita budaya yang terkait dengan kopi dapat saya ketahui. Lagi-lagi waktu jugalah yang membatasi, sehingga saya hanya mampu menjadi konsumen yang menikmati kopi dari cangkir kecangkir saja, tanpa tahu terlalu banyak rahasia didalamnya. Masih banyak hal menarik lainnya di Aceh, mulai dari yang terlihat mata, berupa pemandangan alam yang tersuguh indah dan beragam rupa. Laut, pantai serta pegunungan. Itu belum termasuk kekayaan yang berupa sejarah dan budaya yang tidak ternilai harganya. Saya hanya berharap ada kesempatan kembali ke tanah rencong ini lagi untuk dapat menggali hal-hal yang terlewatkan saat itu.

Ayo Berlayar Bersama Candola

Leave a comment

Hari minggu itu (16 desember 2012), kami dari Jejalan berencana mencoba tawaran berlayar gratis dari AyoBerlayar, sebuah akun resmi program berlayar milik PB Porlasi. Dengan menaiki Candola, sebuah nama kapal layar kecil bertiang tunggal, kami mengarungi teluk Jakarta untuk sampai ke pulau Onrust. Untuk cerita lengkap berikut banyak pengetahuan baru seputar dunia berlayar yang kami dapatkan saat itu, tunggu di free e-Magazine Jejalan volume 2 ya. Jika tidak ada halangan akan kami luncurkan sesegera mungkin. Sementara itu silakan menikmati video pendek berlayar hasil dokumentasi kami diatas.

Catatan Visual Jejalan Aceh Akhir 2012

Leave a comment

Mengawali postingan di tahun baru 2013. Maka jejalan menampilkan catatan visual untuk perjalanan akhir tahun 2012 yang menyenangkan, bertemu banyak kawan baru serta destinasi-detinasi yang menawan. Dan tentu saja kopi istimewa yang selalu tersedia menambah semangat untuk menjelajah Propinsi paling barat di Indonesia ini.

Diawali menghabiskan hari di pantai Lampuuk, pantai yang luas memanjang, dengan pasir putihnya dan deburan ombak air laut yang  bersih dan jernih. Sebuah tempat dengan pemandangan matahari tenggelam yang memanjakan mata. Posisi pantai yang tepat menghadap ke barat, membuat matahari terlihat tenggelam sempurna di ujung cakrawala Samudra Hindia.

Continue reading

Canai Mamak Kering


Leave a comment

Canai Mamak – Kuala Lumpur di Banda Aceh

Canai Mamak Selai Srikaya

Canai Mamak Selai Srikaya

Malam itu Adun sahabat baru saya di Banda Aceh berencana mengajak melihat pertandingan bola antara Persiraja Banda Aceh melawan kesebelasan dari negeri tetangga, Selangor FC – Malaysia. Oh okey, saya menyanggupi untuk menemaninya ke stadion. Karena jika di ingat-ingat lagi, terakhir adalah sewaktu SMA saya menonton dua kesebelasan beradu teknik menguasai bola secara langsung di stadion. Dan itu sudah lama sekali.

Dari desa Lampuuk di Aceh Besar kami berboncengan menuju Stadion di Kota Banda Aceh. Jarak yang harus kami tempuh kira-kira 17 kilometer untuk mencapai Stadion tersebut. Ditengah perjalanan menuju Stadion saya dikontak Ferzya, seorang teman yang sudah saya kenal terlebih dahulu sewaktu di Jogja. Dia menanyakan posisi kami dimana? Saya-pun menjawab bahwa sedang dalam perjalanan menuju Stadion di Kota, dan dia-pun berpesan untuk menghubungi jika sudah berada di Kota.

Sejenak saya  dan Adun minggir di tepi jalan dan berdiskusi tentang rencana menonton bolanya. Karena saya di hari tersebut juga baru tiba di Banda Aceh melalui penerbangan langsung dari Jakarta, maka diputuskan Adun akan mengantar saya ke tempat Ferzya, dan dia sendiri akan melanjutkan menonton bola ke stadion. Adun tidak ingin melewatkan pertandingan saat itu, jarang-jarang dan dia juga sudah janjian bersama teman-teman yang lain untuk datang menyaksikan pertandingan tersebut.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 754 other followers